Source of Happiness

Udah lama juga ga ngeblog.
Ini pun buka blog karena lagi download kerjaan tapi internetnya agak lemot.
Daripada nganggur mending ditungguin sambil ngblog.

Mau sedikit sharing (sharing berkedok curhat)

Jadi ceritanya gini, tadi malem gue jemput icha (istri ya ini, bukan pacar) dari tempat kerjaan.
Tempat kerja dia itu sebenernya ya dirumah juga (rumah mertua gue), kalo dari tempat tinggal sekarang jaraknya sekitar 10 km.

Kata orang jauh sih. Cuma gue kan pernah ngerasain bolak-balik Dayeuh Kolot – Setiabudhi tiap hari.
Itu jaraknya sekitar 15km. Macet lagi.
Kalo di Solo masih lancar. Enteng.

Lanjut, jadi pas jemput icha ternyata ada kerjaan yang belum selesai.
Sambil nunggu gue tiduran bentar.
Rencana gue biar kalo icha udah kelar kerja, bangun terus pulang.
Biar agak ngurangin capek, karena gue pengen lanjut kerja malemnya.

Ternyata eh ternyata, gue bangun dalam keadaan lampu udah gelap dan icha udah tidur disamping gue.
Mungkin sekitar jam 2 dini hari.
Kebablasan deh tidurnya.
Ya akhirnya malem itu gue tidur di rumah mertua sampe pagi.

Paginya gue tanyain kenapa kok ga bangunin.
Dan ada jawabannya yang bikin sejujurnya terharu sih.Jadi dia bilang gini:

“Aku selesai kerja jam 12an, liat kamu tidur gitu kayaknya enak banget. Kecapean gitu kayaknya.
Aku sempet bimbang sih mau bangunin apa engga.

Kalo ga bangunin nanti aku takut kamu marahin paginya kenapa kok ga bangunin kamu.

Tapi kalo aku bangunin, kayaknya kamu capek banget dan kurang tidur gitu. Yaudah deh aku pilih ga bangunin aja” 

Pas denger itu, kayak ada suara backsound “Ohhhhhh” yang suka keluar di film pas lagi so sweet gitu hahaha.

Emang sih gue 3 hari ini lagi ngebut kerja terus, icha juga,
Dan mungkin emang semalem capek banget juga karena gue tidur kurang lebih 4 jam sehari.
Mungkin semalem klimaksnya.

Dan yang bikin terenyuh adalah ternyata icha semengerti itu hahaha.
Cuma emang dasarnya gue suka jail, akhirnya gue jailin aja.
Pura-pura kesel, terus pas dia minta maaf.
Gue cuma cium kening dan bilang “aku bercanda kali keselnya hahaha”

Terus dia yang kesel.

No dear, its not your mistake.

Thanks for taking care for me.
I love you

WhatsApp Image 2017-03-29 at 13.45.14.jpeg

Negara Akumulasi : BUMN Bekerja Untuk Siapa ? (Part 2)

Yak ini adalah kasus kedua yang sering muncul akhir-akhir ini di timeline saya.
Lebih tepatnya kasus penurunan tarif interkoneksi yang sedang terjadi.
Bagi anda yang belum update anda bisa membaca artikel ini terlebih dahulu : http://inet.detik.com/read/2016/08/27/103403/3284857/328/asal-muasal-polemik-interkoneksi

Mungkin kasus ini ramai di timeline saya karena banyak dari rekan-rekan saya yang bekerja di perusahaan yang merasa dirugikan.
Ya, saya memang kuliah di Institusi yang dimiliki oleh salah satu BUMN terbesar yang ada di Indonesia, sehingga alumninya pun banyak yang bekerja disana.
Sejujurnya, agak dilematis mengomentari isu ini.
Disatu sisi saya tau banyak teman saya yang membela perusahaan tempat mereka bekerja, disisi lain saya sebagai konsumen juga bertanya-tanya.

Mungkin ini memang masalah sudut pandang.
Sudut pandang dari karyawan yang bekerja diperusahaan dengan sudut pandang saya sebagai konsumen berbeda tentunya.
Jadi saya memutuskan tidak spesifik membahas kasus ini.
Namun ada pertanyaan turunan yang disebabkan oleh kasus ini.
Hmm, apa itu ?

 

Beberapa hari yang lalu, salah satu rekan saya ‘nekat’ membahas kasus ini.
Dan seperti yang saya prediksi sebelumnya, pasti bakal ramai.
Betul sekali dia ‘dikeroyok’ alumni maupun dosen yang masih aktif di almamater kami.
Dan salah satu pertanyaan yang ‘jleb banget’ adalah ‘BUMN bekerja untuk siapa ?’.

Ya itu benar-benar menggelitik hati saya.
Fakta bahwa tidak sedikit bahwa BUMN merugi, diperparah dengan standar gaji karyawan BUMN yang sangat tinggi.
Sebut saja BUMN seperti Pertamina & PLN.
Beberapa tahun kebelakang selalu merugi.
Namun standar gaji yang karyawannya sangatlah tinggi.

Jika Pertamina dulu beralasan kenaikan harga minyak dunia sebagai sebab kerugian mereka, saat minyak dunia turun (dan harga premium cenderung tidak banyak berubah) mereka tetap merugi.
Jika secara kasat mata kemungkinan masalahnya adalah ketidakmampuan manajemen atau tingginya biaya produksi (termasuk gaji karyawan) sehingga pemasukan tidak mampu mengcover pengeluaran.

Sekarang kita coba tengok PLN, yang notabene-nya bisnis monopoli.
Dengan kondisi tidak adanya pesaing PLN masih dalam posisi merugi.
Namun gaji karyawannya ? Jangan tanya.
Meski masih dibawah pertamina, gaji pegawai PLN masih terhitung besar.
Lalu kenapa masih merugi ?
Apakah masih banyak konsumen yang memilih tidak menggunakan listrik dari PLN ? Saya rasa itu tidak mungkin mengingat ini bisnis monopoli, tanpa subtitusi yang signifikan.

Sebagai konsumen pun, kadang saya berfikir apakah ini terjadi karena kurangnya persaingan dalam bisnis ?
Sebagai contoh kasus, sejujurnya saya sangatlah kecewa dengan layanan salah satu BUMN di Indonesia, Indihome.
Ya layanan produk milik PT Telkom tersebut menyediakan internet broadband, line telepon, dan cable tv.
Jika dibandingkan dari sisi harga, menurut saya lebih tinggi dari yang lainnya.
Untuk 3 layanan tersebut dibanderol sekitar 400-500rb.
Jika dibandingkan dengan internet broadband lain, sebagai contoh BizNet. Kita bisa mendapat layanan internet+cable tv untuk rumah dengan harga 300rb.
Memang tidak ada layanan untuk fixed phone, namun nyatanya saat ini keberadaan fixed phone sudah tersubtitusi oleh ponsel dan aplikasi berbasis data.

Dari segi kualitas sangatlah jauh.
Menurut saya indihome sangat tidak stabil.
Kalah jauh dengan provider broadband lain seperti FirstMedia, BizNet, bahkan MyRepublic.
Namun keunggulan Indihome dibalik pesaing lain adalah disisi coverage.
Indihome memiliki coverage yang paling besar se-Indonesia.
Dan itulah yang membuat kadang berfikir, andai saja persaingan lebih sengit mungkin akan ada persaingan harga yang lebih kompetitif.

Dan mungkin itu yang ingin dicoba oleh pemerintah.
Pemerintah mencoba untuk memperketat persaingan agar PT Telkom menemukan inovasi baru.
Karena terkadang keterdesakkan memunculkan inovasi dan terobosan brilian.
Sebagai contohnya adalah saat dulu indonesia memiliki 2 BUMN di bidang Telekomunkasi : Telkom dan Indosat.
Saat itu Indosat dikhususkan untuk sambungan keluar negeri, dan Telekom untuk melayani sambungan dalam negeri.
Dan saat Indosat dilepas pemerintah, Telkom berevolusi.
Tidak hanya layanan luar negeri, layan internet pun mulai digarap.
Guna menambah value perusahaan.
Sistem perusahaan pun diperbaiki, karyawan diberi pendidikan tambahan, diberi beasiswa dan lain-lain.

Namun di artikel ini saya sekedar berbagi perspektif yang saya miliki saja sebagai konsumen.
Karena menurut saya, tidak salah juga jika ada rekan-rekan saya yang berafiliasi langsung dengan salah satu BUMN (yang mungkin juga membaca artikel ini) membela kepentingan perusahaanya.
Karena mereka pun memang dibayar untuk bekerja dan menyerahkan segenap tenaga untuk perusahaan tersebut.

Namun kadang saya masih gelisah, mengapa yang diributkan hanya masalah interkoneksi yang langsung terkait ke perusahaan-nya bukan ke Indonesianya ?
Masih banyak masalah yang terkait langsung ke Indonesia seperti :

  1. Mengapa internet di Indonesia masih belum stabil sehingga membuat komunikasi untuk bisnis terhambat ?
  2. Mengapa minyak di luar jawa lebih mahal padahal kilangnya ada disana, bukan di Jakarta.
  3. Mengapa dengan tarif yang semahal itu, indihome masih belum setara dengan provider lain ? Kan kasian belahan Indonesia lain yang ga ada layanan lain selain Indihome

Kan kalo misalnya interkoneksi di demo-in, tapi pertanyaan diatas ga terjawab dan ga diperjuangkan takutnya nanti ada yang berpikir : “BUMN bukan bekerja demi Indonesia, BUMN bekerja untuk karyawannya”.

Kan sedih kan 😦

Damai ya, peace.

Negara Akumulasi : Tax Amnesty (Part 1)

Setelah sekian lam tidak nge-blog, sejujurnya bisa dibilang saya kangen.
Saya belum sempat menulis lagi bukan karena tidak ada bahan, hanya saya saya belum ‘klik’ saja dalam hal mood, waktu, dan kondisi.
Dan saat ini mungkin sudah ‘klik’.

 

Di beberapa media sosial yang saya miliki, saat ini ada beberapa hal yang sibuk jadi pembahasan. Diantaranya adalah mengenai tax amnesty, penurunan biaya interkoneksi, dan yang terakhir saya temukan tadi adalah video dimana pemerintah Singapura mengklaim Singapura dibutuhkan Indonesia dalam menangani proyek.

Sejujurnya kadang saya ingin ikut berkomentar langsung setiam ada yang membahas mengenai sesuatu kasus yang sedang tren.
Namun setelah saya pikir ulang, saya tidak pernah mendapat sesuatu yang lebih baik setelah melakukan hal tersebut.
Hanya perdebatan yang tak berujung, dimana salah satu pihak baik pro dan kontra menjadikan ‘kemenangan dalam berdebat’ sebagai tujuan akhir perdebatan itu sendiri.
Dan itu bukan yang saya inginkan.

 

Baiklah saya mulai dari kasus pertama, mengenai tax amnesty. Sebagai orang yang hidup dilingkungan keluarga yang cukup akrab dengan dunia perpajakan, tentunya saya mengetahui sedikit tentang persoalan ini. Ya walaupun mungkin tidak sampai detail sekali.
Tax amesty merupakan program dari pemerintahan saat ini dimana, apabila ada masyarakat (wajib pajak) yang belum melaporkan harta yang sebelumnya dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) maka akan diampuni pajaknya dengan catatan membayar dengan tarif yang lebih rendah dari denda aslinya.

Okay, apakah sudah cukup jelas ?
Jika definisi diatas kurang jelas bagi anda sebagai pembaca, maka anda bisa googling atau mencar definisi dari sumber lain.
Lalu dimana masalahnya ?
Beberapa pihak merasa peraturan ini terindikasi sedikit berpihak dan menguntungkan para koruptor.
Karena dalam pelaporan pajak tidak akan ditanyakan dimana sumber harta tersebut berasal.
Pihak lain juga berpendapat ini merugikan pedagang kecil ataupun UMKM.
Dimana assetnya mungkin tidak terlalu besar namun dikenakan pajak juga.

Disini saya mencoba untuk berbagi perspektif yang saya miliki, baik secara umum tentang tax amnesty itu sendiri maupun secara khusus dalam menjawab 2 pertanyaan diatas.

Apabila kita menganggap ini memihak kepada koruptor, maka menurut saya ini tidak sepenuhnya salah namun tidak bisa dibenarkan pula.
Karena memang denda yang akan dikenakan lebih rendah dan tidak dicari tahu darimana sumbernya, mungkin para koruptor, bandar narkoba, dan kriminal lainnya akan mendaftarkan hartanya.
Hanya dengan uang yang tidak seberapa, namun harta mereka akan ‘aman’ tidak akan ditelusuri lagi oleh negara.
Sedangkan apabila tidak mengikuti tax amnesty, negara bisa menelusuri harta mereka, mengenai denda yang lebih besar, bahkan bisa sampai penyitaan aset oleh negara.

Namun sejatinya, pemerintahan saat ini merumuskan tax amnesty ini salah satunya dengan tujuan agar uang yang berada di luar negeri, dimana biasanya orang kaya di negeri ini menaruh assetnya di luar negri agar aman tidak dikenai pajak, bisa masuk kembali ke Indonesia.
Lalu keuntungan lainnya adalah pemerintah bisa mendapatkan data ‘orang kaya’ yang selama ini belum melaporkan pajaknya.
Sehingga kedepannya orang kaya tersebut dapat dimasukan wajib pajak yang masuk sebagai target pajak.

Lalu jika sudah jelas-jelas begitu, lebih baik ‘orang-orang kaya yang tidak diketahui’ itu tidak usah mengikuti tax amnesty, dong ?
Apabila pilihan itu yang dipilih, kita patut mengapresiasi langkah strategis yang sudah disiapkan pemerintah saat ini.
Tahukah anda, pada tahun 2018 nanti, Ditjen Pajak (bagian yang mengurusi pajak) dapat terkoneksi langsung dengan rekening tabungan Nasabah yang ada di Bank ?
Ditjen Pajak dapat melihat pengeluaran, pemasukan, tabungan, deposito dan produk perbankan lainnya.
Jadi apabila terdapat kejanggalan dalam pengeluaran, pemasukan, dan jumlah harta yang dilaporkan akan menjadi lebih cepat terdeteksi.
Lengkapnya anda bisa lihat disini : http://finance.detik.com/read/2015/08/11/155646/2989065/4/mulai-2018-ditjen-pajak-bisa-intip-dana-nasabah-bank

Saat ini, bank tidak diperkenankan untuk memberitahukan informasi terhadap nasabahnya.
bank hanya diberi kewenangan untuk memblokir rekening nasabah jika sudah ditetapkan sebagai tersangka atau terdakwa oleh polri, jaksa, maupun hakim.
Lengkapnya disini : http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4f2123915732a/siapa-saja-yang-berwenang-memblokir-rekening-nasabah-

Untuk pertanyaan nomer dua, dimana tax amnesty disebut memberatkan UMKM menurut saya hampir sepenuhnya kurang tepat.
Yang pertama adalah karena tarif yang diberlakukan.
Tarif yang diberlakukan adalah 0,5% dari total aset yang dilaporkan untuk UMKM yang memiliki asset dibawah 10 Miliar.
Sedangkan yang assetnya diatas 10 Miliar akan dikenai 2% dari total asset.
Jadi bagi UMKM pun sebenarnya ini masih cukup kecil mengingat adanya batasan asset sebesar 10 Miliar tersebut.

Hal kedua yang harus digarisbawahai adalah, tax amnesty ini merupakan hak yang diberikan, bukan kewajiban.
Jadi apabila tidak mengambil kesempatan ini pun tidak ada larangan tersendiri.
Hanya saja memang apabila tidak melaporkan pada tax amnesty, kedepannya apabila ketahuan oleh Ditjen Pajak akan dikenai denda yang besarnya adalah : akan dikenakan sebagai pajak penghasilan (besaranya sekitar maksimal 30% ) + HARUS MEMBAYAR DENDA (BESARNYA 200% DARI TOTAL TUNGGAKAN PAJAK)

Jadi katakanlah anda memiliki asset yang belum dilaporkan sebesar 2 Milyar, apabila anda mengikuti tax amnesty anda akan dikenakan tebusan sebesar 10 juta rupiah. Namun apabila anda tidak melakukan tax amensty maka anda akan dikenakan Pajak Penghasilan Maksimal 30% (600 juta) + Denda sebesar 4 MILYAR.
Jadi total yang harus anda bayarkan adalah 4,6 Milyar atau asset anda akan disita.
Anda bisa menyimpulkan sendiri mana yang lebih menguntungkan bagi anda.

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa sih pemerintah melakukan hal ini ?
Kenapa sih si Pak Jokowi dan pasukannya melakukan ini semua.
Sejujurnya saya merasa kasihan pada pemerintahan saat ini, pemerintah ingin melakukan pembangunan namun sumber dananya belum ada.
Lalu kenapa pemerintah sebelumnya bisa melakukan tanpa perlu melakukan tax amnesty ?
Hmm, jawabannya adalah dengan cara …. hutang.
Terutama hutang pada pihak asing.
Ya hutang, metode yang sering diprotes oleh berbagai kalangan (salah satunya yang paling getol protes mahasiswa).
Hutang Indonesia per 2015 mencapai lebih dari 4000 triliun.
Dan pemerintah kali ini menyadari ada sumber lain yang bisa digunakan, salah satunya melalui pajak dan harta-harta orang Indonesia di luar negeri.

Sekedar sharing, sebenarnya akhir-akhir ini saya mulai meragukan statement ‘Indonesia dilanda Kemiskinan’.
Itu adalah hal yang benar-benar saya ragukan saat ini.
Saudara saya ada yang berjualan batu permata (berlian dan sejenisnya), salah satu yang membeli adalah istri dari pemimpin provinsi di negeri ini (sengaja tidak saya sebut spesifik).
Dan ketika saudara saya menawarkan produknya kepada istri pemimpin provinsi tersebut (yang notabene-nya berharga mahal diatas 200 juta), sang istri pemimpin langsung membayar secara tunai.
Ya, benar-benar tunai uang kertas. Bukan transfer bank.
Beliau hanya pamit sebentar, ke sebuah kamar atau ruangan di rumahnya, dan kembali membawa uang kertas sebesar 200 juta rupiah.

Ya walaupun memang tidak semua kaya, namun saya sedikit sangsi jika mendengar Indonesia dilanda kemiskinan.

Kembali ke topik, saat ini pemerintah berusaha untuk menghimpun dana untuk menyelesaikan kewajiban mereka yang butuh dana besar.
Dan medianya adalah pajak.
Dan menurut saya itu patut untuk diapresiasi.
Sekian.

*nb : topik lain saya lanjutkan nanti ya.

 

 

Lama di Proses

Hidup kita itu lama di proses.
Kalimat itu yangada di kepala saya ketika naik motor tadi pagi.
Kalo diliat fase umur rata-rata manusia saat ini umurnya mungkin sekitar 60-80 tahun.
Apabila umurnya diatas 80 tahun mungkin sebuah pengecualian.

Dengan umur ‘sesingkat’ itu, manusia mungkin menikmati masa puncak dari hidupnya mungkin sangatlah sebentar.
Steve Jobs dengan Apple ‘memetik’ hasil dari usahanya saat iPod diluncurkan taun 2001. Sedangkan iPhone diluncurkan tahun 2007.
Dan pada 2011 Steve Jobs wafat.
Itu artinya Steve Jobs merasakan masa jayanya hanya sekitar 10 tahun (antara 2001 dan 2011).
10 tahun setelah berjuang selama 25 tahun (Apple Computer ditemukan tahun 1976).
10 tahun dari total hidupnya selama 56 tahun (Jobs lahir tahun 1955).

Kesimpulannya adalah kita ini hidup lama di proses.
Jadi jika kita tidak bisa menikmati proses hidup kita itu artinya kita cuma buang-buang waktu kita.
Nikmati proses hidupmu, sambil melakukan apa yang ingin kamu lakukan dan kamu ingin capai.
Dan hasil akhir akan mengikuti kerja keras.

Dreamer vs Realist

Bismillah.

Di tulisan kali ini saya berniat membagi cerita saya.
Cerita tentang (sebagian) mimpi-mimpi saya.
Dan sebagian cerita bagaimana itu terwujud.

Semua bermula dari sebuah sekolah di kaki Gunung Ciremai.
Dimana seorang anak kecil kurus saat itu menyaksikan suatu tayangan video yang mengusik batinnya.Video dimana dia mulai berani bermimpi dan mengambil langkah.
Ya anak kecil kurus itu adalah saya.

Dalam video tersebut disebutkan agar kita menulis impian kita.
Ya literally, ditulis diatas sebuah kertas, buku, atau apapun.
“Tuliskanlah impian anda secara nyata. jangan anda tulis di dalam ingatan saja. Karena pasti anda akan LUPA”

Dan saat itu juga say menuliskan beberapa impian saya.
Saya ingat sekali waktu itu menulis impian saya diatas sebuah binder.
Dan jujur saya agak kaget ketika saya kemarin membuka lagi binder tersebut.
Ya sejujurnya saya kaget karena banyak impian yang sudah pernah saya tuliskan.
Dan lebih kaget lagi, beberapa impian itu sudah terjadi.

Diantara mimpi-mimpi yang besar buat saya waktu itu (anak umur 16 tahun, kelas 1 SMA) antara lain adalah :

  1. Mengumrohkan dan haji kedua orang tua
  2. Pergi ke Jepang (negara yang mungkin sangat ingin saya kunjungi, selain US)
  3. Punya 20 juta pertama di umur 20 tahun

Saya akan sedikit bercerita tentang 3 impian saya, namun sebagai catatan, yang saya tuliskan bukan hanya 3 hal tersebut. Namun mungkin hanya 3 hal tersebut yang ingin saya sharing.

Pada tahun 2015 awal, saya terpikir satu hal gila, bagaimana kalo tahun ini saya umrohkan kedua orang tua saya ?
Ya cukup gila menurut saya, karena saat itu saya tidak punya cukup uang.
Uang di rekening saya saat itu hanya 2 juta rupiah.
Sedangkan biaya umroh dengan kurs saat itu sekitar 25 juta – 30 juta.
Lalu saya pikir, ah bodo amat. Yang penting jalan dulu.
Dengan uang yang ada, saya bilang ke kedua orang tua saya saya untuk membuat pasport, belajar tentang umroh, dan ikut pendidikan yang sering diselenggarakan oleh biro perjalanan imroh.
Orang tua saya kaget, beliau tanya emang saya punya uang ?
Lalu saya kirimkan uang yang saya punya untuk membiayai keperluan seperti pasport dan pendidikan umroh. Kebetulan yang bisa ikut pendidikan saat itu hanya ibu saya, karena ayah saya sibuk berkaitan dengan pekerjaan.

Saldo di tabungan saya saat itu sejujurnya hampir nol.
Buat hidup sebulan pun saya belum tau bisa atau tidak.
Tapi saya yakinkan diri saya untuk bisa mengumrohkan orang tua saya tahun ini.
Saya berusaha dengan cara apapun, dapet proyekan (yang hasilnya mungkin tak seberapa) langsung saya tabung untuk umroh.
Pokoknya segala upaya saya kerahkan saat itu.

Lalu ditengah perjalanan, ibu saya memberitahukan bahwa beliau telah di daftarkan oleh biro tempatnya mengikuti manasik.
Sejujurnya saya kaget, kan uangnya belum ada. Kok udah daftar.
Yasudah, karena sudah terlanjur saya maju terus.

Alhasil, sampailah pada h-7 keberangkatan.
Taukah berapa uang yang sudah saya kumpulkan ?Ini adalah sebuah keajaiban.
Jumlahnya adalah …. kurang dari 3 juta.
Ya masih sangat jauh dari kata cukup untuk umroh.
Ibu saya terus menanyakan ke saya apakah uangnya sudah ada ?
Saya hanya jawab “iya mah, doain terus ya semoga duitnya kekumpul” tanpa menyebutkan uang yang saya miliki saat itu yg kurang dari 3 juta hahaha.

Akhirnya sampailah pada h-2 keberangkatan, ibu saya bilang katanya sudah ditagih oleh biro karena apabila ada satu yang belum bayar, maka bisa-bisa jamaah lain harus ditunda juga karena quotanya harus terpenuhi dulu.
Ibu saya mengabari hal tersebut lewat chat, saya hanya bisa membacanya tanpa membalas.
Lalu saya berfikir, ‘yasudahlah, mungkin bukan taun ini rezekinya’.
Bisa dibilang saya menyerah.

3 hari setelah itu, saya berniat ingin meminta maaf kepada ibu saya karena mungkin sudah membuat kecewa tidak bisa berangkat.
Saya sampai tidak mengaktifkan ponsel saya saat itu, ya saya takut ibu saya kecewa dengan saya.
Dan anda tau apa yang terjadi saat saya aktifkan kembali ponsel saya.
Ada BBM dari ibu saya yang kurang lebih begini, ‘Mas, mamah udah Dubai. Makasih ya usahanya. Akhirnya mamah umroh.’
Saat itu juga saya mau nangis.
Tapi saat itu saya sedang di tempat yang tidak mungkin untuk menangis.

Ya itulah sepenggal pengalaman saya.
Saya sarankan bagi anda, untuk mengikuti saran saya.
Jika anda punya impian tulis.
Apakah supaya tidak lupa ?
Tidak juga, soalnya saya ternyata punya impian yang saya tulis dan ternyata saya lupa juga hahaha.
Tapi alhamdulillah impian itu terjadi.

Saat kemarin saya temukan lagi binder saya dan saya buka lagi impian itu memang tidak terjadi.
Emm, tapi bukannya tidak terjadi juga sih.
Impian saya waktu itu adalah punya 20 juta pertama di umur 20 tahun.
ternyata saya baru punya 35 juta pertama di umur 22 tahun.
Agak menyesal juga sih menulis impian itu.
Iya menyesal, kenapa ga langsung nulis 100 juta atau 1 milyar sekalian gitu hahaha.

Dan ada satu impian lagi yang belum tercapai yaitu pergi ke Jepang.
Sebenarnya saya pernah hampir mencapai impian itu, ya paling tidak sudah cukup dekat.
Saat SMA saya pernah hampir diterima beasiswa ke Jepang, cuma memang gagal.
Sejujurnya saya kecewa saat itu. Namun ternyata banyak hal yang saya tidak tahu.
Beberapa bulan kemudian terjadi bencana Reaktor Nuklir Fukushima, yang membuat beberapa mahasiswa bahkan harus di pulangkan.
Ya saya yakin itu akan terwujud. Tapi bukan sekarang.

Dan saya sarankan mulai sekarang ambil kertas, tuliskan impian kalian.
Tulisin aja udah.
Anda bingung gimana mencapainya ?
Jangankan anda, saya dulu aja bingung.
Tapi buktinya berhasil.

Karena kalo saya hanya menginginkan itu, saya mungkin seorang pemimpi sejati (dreamer).
Tapi dibandingkan dreamer, saya lebih ingin mewujudkan apa yang saya ingin.
Saya ingin membuat itu nyata (real), maka saya mungkin seorang pembentuk realita.

Kesannya saya sombong banget ya ? Hahaha
Engga sih, ini saya niatkan untuk balas budi saja.
Balas budi untuk siapa dan untuk apa ?
Untuk Mas Danang yang sudah membuat video yang menginspirasi saya.
Dan semoga kisah saya juga bisa meyakinkan anda semua.

Btw, ini videonya Mas Danang.

Video

Putih

Saat kematian datang
Aku berbaring dalam mobil ambulan,
Dengar, pembicaraan tentang pemakaman
Dan takdirku menjelang
Sirene berlarian bersahut-sahutan
Tegang, membuka jalan menuju tuhan
Akhirnya aku habis juga

Saat berkunjung ke rumah,
Menengok ke kamar ke ruang tengah
Hangat, menghirup bau masakan kesukaan
Dan tahlilan dimulai
Doa bertaburan terkadang tangis terdengar
Akupun ikut tersedu sedan
Akhirnya aku usai juga
Oh, kini aku lengkap sudah

Dan kematian, keniscayaan
Di persimpangan, atau kerongkongan
Tiba tiba datang, atau dinantikan
Dan kematian, kesempurnaan
Dan kematian hanya perpindahan
Dan kematian , awal kekekalan
Karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian

Lalu pecah tangis bayi Seperti kata Wiji
Disebar biji biji
Disemai menjadi api
Selamat datang di samudra.
Ombak ombak menerpa
Rekah rekah dan berkahlah
Dalam dirinya, terhimpun alam raya semesta
Dalam jiwanya, berkumpul hangat surga neraka

Hingga kan datang pertanyaan
Segala apa yang dirasakan
Tentang kebahagian
Air mata bercucuran

Hingga kan datang ketakutan
Menjaga keterusterangan
Dalam lapar dan kenyang
Dalam gelap dan benderang
Tentang akal dan hati
Rahasianya yang penuh teka teki
Tentang nalar dan iman
Segala pertanyaan tak kunjung terpecahkan
Dan tentang kebenaran
Juga kejujuran
Tak kan mati kekeringan
Esok kan bermekaran

——————————————————————-

Sebuah karya sastra dari band bernama Efek Rumah Kaca yang membuat saya intropeksi
dan mengingat akan datangnya suatu hal bernama, kematian

Mari luangkan waktu sejenak untuk mendengarkan, saran saya gunakan headset ataupun earphone dan resapi karya sastra ini.

 

Selalu Jadikan Itu Salahmu

image

Baru baca buku keren.
Di dalamnya ada banyak pelajaran yang bisa diambil.
Salah satunya adalah “It’s All My Fault”.
Ya, “itu semua kesalahan saya”.

Di buku itu diajarkan bahwa apabila ada hal buruk, pastikan itu kesalahan kita.
Bahkan jika itu bukan, buat itu menjadikan kesalahan kita.
Diawal membaca, pikiran medioker saya berontak.
Protes dalam hati.
Karena ini kesannya too harsh for yourself.
Ternyata memang begitu mungkin watak utama manusia, protes lah diawal.
Protes, protes lagi, protes terus.

Kalo ada suatu kesalahan dalam hidup, jadikan itu tanggung jawab kita.
Pastikan itu semua ada di pundak kita.
Bahkan jika itu melibatkan orang lain, buat itu murni sebagai kesalahan kita.
Pikul kesalahan itu dengan bahu kita.
Bukan bos kita, jenis pekerjaan kita, karyawan di bagian lain, bawahan kita, kondisi ekonomi di negara tempat kita tinggal, orang sekitar kita.
Ya semua salah kita sendiri. Anda sendiri.
Saya sendiri.

Kenapa ?
Karena itu artinya kita punya kuasa penuh untuk merubahnya.
Kita punya kekuatan untuk berubah sesuai keinginan kita.
Bukan kuasa dari bos kita.
Bukan dari karyawan di bagian lain.
Bukan dari pekerjaan kita.
Orang sekitar kita.
Orang tua kita.
Bukan pula karena tak ada modal.
Bukan karena kita membutuhkan partner yg lebih baik.
Atau bukan karena kita terlalu sibuk.

Karena akan selalu lebih nyaman dan aman untuk nyetir sendiri, daripada nyetir bersama secara berbarengan.
Jika ada satu supir itu artinya ada satu tujuan.

Salam. Ga pake tempel.

Semenit Nurani

lolcatsdotcomkh2sfbuya7kar62g

Tadi selepas sholat maghrib, ketika meluangkan waktu sejenak untuk ritual ba’da sholat, pikiran saya bercabang.
Biasalah orang kurang kerjaan mikirnya suka sok filosofis, disambung-sambungin.
Tapi ga tau kenapa saat dzikir memang kadang pikiran yang tidak jarang absurd sering muncul.
Mulai dari mereview hal-hal yang terjadi hari ini, bersyukur, tarik napas, dan macem-macem hal lainnya.

Dan maghrib tadi hal absurd yang muncul adalah saya flashback dan mengingat bagaimana ‘seorang Nuha dulu’.
‘Dulu’ disini saya definisikan sebagai masa dimana saya totally different dengan saya yang sekarang, yaitu masa dari SD hingga sekitar akhir kelas 1 MTs (setingkat SMP).
Ya jujur saat SMP-SMA mungkin adalah masa transisi bagi saya hingga jadi seperti bentuk sekarang hahaha.

Nuha yang dulu adalah seorang anak yang perawakannya lebih pendek dari teman-teman lainnya, jayus, polos, penakut, bahkan sedikit pengecut.
Nuha yang dulu selalu ranking 5 besar dikelasnya.
Tidak jarang dia hanya satu-satunya anak laki-laki yang  ada di 5 besar.
Beberapa kali mengikuti olimpiade mewakili sekolah di bidang matematika.
Selalu ijin orang tua ketika melakukan sesuatu, walaupun pernah nakal juga sih
Dan selalu berdo’a sebelum melakukan sesuatu.
Pokoknya kalo orang tau saat itu keliatan masa depan cerah banget lah hahaha.

Lalu saya berpikir “lah ? kok bisa ya dulu gue gitu ?, kalo sekarang bisa ga ya ?”.
Dan akhirnya saya coba mempraktekan diri saya yang dulu.
Saya mulai dari hal kecil.
Saat keluar masjid, saya dahulukan kaki kiri.
Saat mau pake sendal, saya dahulukan kaki kanan.
Sebelum naik motor saya baca doa terlebih dahulu
Saat tiba dirumah saya ikuti perintah ibu saya tanpa membantah.

Dan itu cukup melelahkan sih hahaha.
Mungkin karena saya melakukan hal yang tidak biasa saya lakukan sehari-hari.
Jadi saya harus berpikir beberapa detik (atau mungkin sedetik) kira-kira mana yang benar mana yang salah.
Saya harus menggunakan nurani saya dan berusaha untuk tidak membantah.
Sedikit susah karena saya harus sedikit mengurangi reaksi impulsif yg biasa saya lakukan.

Dan akhirnya saya menemukan hal-hal kecil yang bisa diambil pelajaran.
Ketika kita bingung akan hal yang harus kita lakukan, nurani selalu tau jawabannya.
Saya tidak tau dimana letak nurani, bahkan apa itu nurani .
Tapi sejauh yang saya rasakan, ketika saya mengikuti nurani ada kelegaan dan kedamaian.
Jadi sesekali luangkan waktu beberapa detik, atau bahkan menit untuk bertanya pada sang nurani.

Mulai lah dari hal kecil.
Mulai dari hal paling remeh.
Mulai dari hal paling tidak penting.

Contohnya tanyakan pada nuranimu apakah saat ini kamu membuang waktu membaca postingan ini sia-siakah ?
Jika nuranimu menjawab sia-sia.
Berarti nuranimu benar hahahhaa.

Dari Sasuke ke Naruto. Ungkapan Terimakasih Untuk Semua.

naruto__ashura_and_indra_by_thedreamvirus-d873uj3

Sebenarnya saya dikepala saya ini banyak sekali yang ingin dituliskan.
Tapi entah mengapa saya ingin lebih dulu menulis ini dulu.

Saya salah satu orang yang cukup mengikuti serial manga Jepang.
Ya walaupun ga ‘holic-holic’ amat (masih kalah sama adik saya).
Dan saya kadang merasa tertolong dari berbagai manga yang saya baca maupun anime yang saya tonton.
Baik dari segi hiburan, maupun pelajaran kehidupannya.
Salah satunya adalah serial Naruto.
Ya walaupun saya sekarang ga terlalu suka anime ini karena menurut saya pribadi terlalu serius, ga selucu One Piece ataupun Fairy Tail.

Tapi kemarin saya menonton lagi (saya punya kebiasaan mengulang film yang sudah pernah ditonton hehe) dan mendapatkan suatu pelajaran.
Intinya begini, di dunia ini ada 2 tipe orang.
Tipe pertama adalah orang yang berbakat.
Orang tipe ini adalah ‘manusia super’.
Ciri-cirinya biasanya orang ini cerdas minta ampun, bisa melakukan apa saja, kehadirannya sangat berpengaruh, dan apabila ada dirinya semua hal terasa mudah seolah tanpa ada orang lain pun semua hal akan beres olehnya.
Kita sebut tipe ini, tipe Sasuke.

Tipe kedua, adalah orang yang percaya semuanya tidak bisa dipikul sendiri.
Dia menerima bahwa dirinya tidak pandai, dia sering gagal, dia butuh kerja keras untuk mendapat sesuatu, dan dia merasa apa yang dia capai bukan karena kekuatannya sendiri.
Tipe ini adalah tipe Naruto.

Sejujurnya dahulu saya merupakan orang yang suka mengandalkan diri sendiri.
Saya tidak suka terlalu banyak membagi keluh kesah dengan orang lain (sampai sekarang sih hahaha).
Dan saya dahulu selalu bertindak atas kehendak saya sendiri, bahkan relatif one man show.

Saat ini mungkin karena berbagai keadaan saya mulai menyadari berbagai kelemahan saya.
Saya tidak sekuat itu, saya tidak secerdas itu, saya tidak seberbakat itu.
Paling tidak jika saya mengandalkan diri saya sendiri itu mengerjakan itu semua.

Dan saya mungkin baru sadar kelemahan orang bertipe Sasuke adalah pada akhirnya dia harus menaruh kepercayaan pada orang yang sama kuat dengan dirinya.
Dan itu adalah tidak mudah.
Seorang profesional dengan jam terbang tinggi akan lebih susah menaruh kepercayaan daripada seseorang yang masih belajar.
Maka saya putuskan berganti aliran sedini mungkin.

Dan saya ingin berterimakasih untuk semua hal, semua dzat, semua orang, semua pokoknya.
Mulai dari teman, rekan, sahabat, keluarga, dan pastinya Tuhan.
Terimakasih telah membuat saya sampai sejauh ini.
Saya memang baru memulai, tapi tanpa kalian semua titik inipun mungkin saya tidak akan sampai.

Jika anda baca tulisan ini dan merasa ge-er, gapapa.
Kalo kalian merasa, ini memang ditunjukan kepada kalian.
Saya bersyukur untuk segala bentuk perkenalan bahkan apabila hanya sekedar mengenal nama.
Terimakasih.

 

a11deecfd8daf245bf30040ac3975c8c

Nyalakan Lilin, atau Bahkan Buatlah Percikan Api

Seorang kawan pernah berkata pada saya ‘Daripada mengutuk
kegelapan, lebih baik menyalakan lilin’.
Entah itu adalah kalimat buatannya sendiri, atau merupakan kalimat yang disadur dari sumber lain.
Kalimat itu bukan sekali dua dia ulang, sering sekali bahkan jujur saat itu saya muak mendengarnya.

Tapi saat saya sedang dalam dihadapkan dalam sebuah kondisi asing, sebut saja ia ‘masalah’, yang tidak pernah saya alami sebelumnya.
Tidak ada prakteknya di bangku kuliah.
Dan tidak semua orang akan mengalaminya mungkin.
Tiba tiba kalimat tersebut terngiang-ngiang di kepala saya.

Saya belum tau kapan ini akan selesai.
Yang jelas, saya yakin ini akan selesai.
Saya tidak tau apakah ini butuh satu pukulan untuk mengalahkannya.
Atau saya butuh beberapa pukulan bahkan dibantu orang lain sampai ia kalah.
Yang jelas saya harus terus memukul sembari mempelajari kelemahannya.

Jika belum mengetahui kelemahannya, memukul tak terlalu buruk daripada sekedar diam.
Jika belum bisa temukan sang surya, lentera bisa jadi solusinya.
Bahkan percikan api pun dapat timbulkan cahaya.

*Ya Allah kuatkan hambamu ini esok dan seterusnya.

Btw, kenapa hambamu ini jadi kayak budak sajak ya, Ya Allah.
Hambamu ini bukan admin official account line ‘Kumpulan Puisi’ kan ya Allah ?

Bercanda dikit gapapa kan ya Allah ?